header-int

Fakultas Biologi UMA Latih Siswa Membuat Kompos

13 Feb 2018 - 129 View
Share

Fakultas Biologi (Fk-Biologi ) Uni­versitas Medan Area (UMA) melatih siswa-siswi sekolah menengah atas (SMA) dan madrasah aliyah (MA) cara-cara membuat kompos dan oshibana.

Pelatihan itu digelar di Convention Hall Kampus I UMA Jalan Kolam, Medan Estate, Sabtu (10/2) yang di­ikuti ratusan siswa dari Kota Medan, Binjai dan Langkat.

Wakil Rektor III UMA Ir Zulheri Noer MP dalam sam­butannya saat membuka pelatihan itu mengapresiasi (Fk-Bilogi ) UMA yang sangat peduli persoalan lingkungan. Sebab sampah atau limbah yang tak dikelola dengan baik akan menjadi bencana.

“Pelatihan ini bukan hanya berupaya menyelamatkan lingkungan, tapi juga mem­be­rikan keterampilan kepada ge­nerasi bangsa untuk me­ngolah barang yang tak ber­guna menjadi bernilai eko­nomi,” ujar Zulheri

Dekan (Fk-Bilogi ) UMA Dr Mufti Sudibyo MSi mengatakan, pelatihan mengolah sampah menjadi kompos tersebut agar kepedulian pengelolaan limbah tak hanya di ling­ku­ngan perguruan tingggi, tapi sampai ke seluruh sekolah yang ada di Sumut.

Dalam pelatihan ini, kata­nya, fokus pada pengolahan limbah padat menjadi kom­pos. Pengelolaan diakuinya sudah sangat umum, namun menjadi berbeda karena yang menjadi narasumber seorang tokoh peduli lingkungan, yakni dr Tengku Kemala In­tan MPd Mbiomed, konsultan Institute for Global Environmental Strategies (IGES) Je­pang.

Selain pelatihan pem­buatan kom­pos, kata Mufti, para siswa juga diberikan keterampilan oshibana, yakni merangkai bunga atau tana­man herbal yang sudah ron­tok/mati, kemudian diawet­kan dalam herbarium. Lalu ditempelkan sebagi bros untuk dijual ke pasar.

“Bunga mawar yang ron­tok itu misalnya bisa di­awetkan lalu diolah menjadi bros. Ini punya nilai jual yang tinggi karena unik dan cantik,” katanya seraya me­nye­butkan pihaknya akan mengusulkan hak paten untuk produksi oshibana ini.

Bank sampah

Sebelum memaparkan cara me­ngolah sampah men­jadi kompos, Tengku Kemala Intan terlebih dahulu meng­uraikan betapa pentingnya bank sampah. Jumlah bank sampah di Kota Medan baru 83 unit, dan bila digabung dengan Provinsi Sumut baru 123 bank sampah.

“Padahal, manfaat berdiri­nya bank sampah akan mem­bantu mereduksi jumlah sampah perkotaan dibuang ke TPA. Sehingga apabila bank sampah berada di setiap lingkungan dan keca­matan, maka tidak diperlukan lagi tem­pat pembuangan sampah secara ter­buka,” kata dosen USU dan Ketua Green Bridge ini.

Sampah yang tidak dapat diken­dalikan, tambahnya, dalam proses pem­bu­su­kannya akan menimbulkan gas karbon dan metan (SLCP) yang akan berdampak ter­hadap perubahan iklim dan peningkatan temperatur bumi.

Wakil Dekan Bidang Ke­maha­siswaan (Fk-Bilogi) UMA Abdul Karim SSi MSi di­dampingi Kabag Humas UMA Ir Asmah Indrawati MP mengatakan, berdasarkan hasil survei, pen­duduk Indonesia didominasi usia 15-25 tahun. Sedangkan setiap orang penduduk Indonesia menghasilkan 0,5-0,8 kg sampah per hari.

“Maka pelatihan ini sangat penting, karena usia remaja yang paling banyak meng­hasilkan sampah,” katanya

(tr/sp)

uma

Kampus I : Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223 Telepon : (061) 7360168, 7366878, 7364348 Fax : (061) 7368012

CALL CENTER : 0822-6777-1313, 0822-6777-1314, 0813-7095-7775

Kampus II : Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112 Telepon : (061) 8225602, 8201994 Fax : (061) 8226331 HP : 0811 607 259

© 2018 PDAI - Universitas Medan Area Facebook Twitter Instagram Youtube